Home > Mikrotik, Networking, Tips n Trick > Mikrotik VS UBNT – sharing pengalaman.

Mikrotik VS UBNT – sharing pengalaman.

Memulai artikel ini sebenarnya hanya akan memicu perdebatan tiada ujung karena masing-masing penggemar akan mengeluarkan argumen masing-masing. Tapi biarlah kali ini saya memunculkan argumen saya sebagai orang yang sudah melakukan setting pada kedua merk perangkat ini. Maafkanlah bila ternyata saya yang kurang mampu melakukan setting yang baik pada perangkat tertentu.

Jadi ceritanya begini, salah satu teman saya bertanya di Facebook, habis dapat bandwidth gratis, enaknya pakai apa ya sebagai router dan AP Hotspotnya. Saya menjawab, router pakai mikrotik dan AP hotspotnya pakai Ubiquity (UBNT) Unifi kalau mau stabil. Lalu ada salah satu orang yang mendebat saya, katanya AP yang bagus sebaiknya pakai Mikrotik karena CPU dan RAM besar.

Well… Sah-sah juga pendapatnya, tapi mari saya uraikan berdasarkan pengalaman saya.

Jaringan yang saya buat menggunakan VLAN untuk memisahkan jaringan Wireless dan kabel. Jumlah user cukup banyak, dan seringkali terkonsentrasi di beberapa titik (misal, kantor). Jadi yang saya butuhkan adalah perangkat Access Point yang stabil bila banyak perangkat konek bersamaan. Kecepatan tiap perangkat bisa saja bervariasi, yang penting Access Point stabil, masih bisa menerima koneksi dan tidak hang/macet/bengong. Ini faktor yang paling penting bagi saya.

Model jaringannya adalah AP Bridge, dimana setiap AP hanya berfungsi sebagai bridge ke jaringan kabel (VLAN 10) lalu ditangani oleh server mikrotik untuk DHCP dan Hotspot Login. AP tidak menjalankan firewall ataupun aplikasi apapun. Murni hanya sebagai bridge.

Untuk server, saya menggunakan mikrotik x86, bukan versi Routerboard karena lebih bertenaga dan RAM bisa diatur.

Semua Access Point dipilih yang bisa menggunakan OpenWRT/LEDE/DD-Wrt. Ini mutlak bagi saya karena kemampuan untuk VLAN Tagging. Ya memang, kita bisa melewatkan setiap AP itu ke mikrotik/manageable switch untuk VLAN Tagging, tapi terbentur lagi dengan managemen AP yang jadi tidak bisa/susah diakses.

Mikrotik

Mikrotik mempunya banyak produk wireless, dan saya sebenarnya nyaman menggunakan mikrotik karena mudah konfigurasinya. Di kebutuhan saya, tinggal atur wireless, buat VLAN, buat bridge, sudah kelar. Paling lama butuh 15 menit untuk setting. Sekali lagi, saya tidak anti mikrotik, anda bisa cek di blog ini, beberapa posting membahas tentang mikrotik.

Untuk access point, saya mencoba mikrotik RB751, RB951, dan RB941. Tentu disesuaikan dengan jumlah user di area tersebut. Versi ROS sudah saya upgrade terbaru, dan kendala terbesar adalah perangkat client (laptop/gadget) susah sekali konek. Selalu diskonek dengan pesan di Log: “Extensive Data Loss”. Padahal jarak perangkat dengan mikrotik kurang dari 10 meter, dan tidak ada halangan. Dari pencarian di forum-forum, didapatkan ini masalah TX Power yang terlalu besar, ada yang bilang interferensi gelombang (noise) terlalu banyak.

Kalau interferensi banyak, ya jelas. Lha wong ini kan frekuensi 2.4 GHz. Tidak mungkin saya menghilangkan faktor ini kan? Lalu masalah kedua, kalau TX Power terlalu besar dan saya harus memperkecil TX Power, maka jangkauan juga kecil. Mubazir karena kalah dengan perangkat Access Point biasa yang walaupun TX Power besar, tetap stabil.

Saya amati, jumlah perangkat yang terkoneksi, tidak bisa melebihi 15 perangkat. Selalu kurang dari itu, padahal tidak ada pembatasan jumlah perangkat. CPU Usage juga kecil.

Bingung kan? Kalau mau komen menanggapi, saya persilahkan, siapa tahu saya bisa belajar dari teman-teman yang lain.

referensi biar gak dikira main perasaan aja:

https://forum.mikrotik.com/viewtopic.php?f=3&t=60636

UBNT

Awalnya dengan perangkat yang tersisa, saya pasang Linksys WRT54GL, tapi segera akan hang bila perangkat lebih dari 15 dan semuanya suka streaming/download. Setiap beberapa jam, AP harus di-restart. Apalagi soal TP-Link, kalau TP-Link hanya mampu rata-rata 8 perangkat. Saya sendiri memasang TP-Link WR841ND untuk area yang kecil, yang hanya 3-4 perangkat karena pasti cukup stabil (dan murah).

Produk GL.iNet 6416 juga saya coba, dan stabil. Sayangnya GL.iNet 6416 TX Power-nya kecil, sehingga jangkauannya hanya 1 ruangan. Huawei HG533 yang legendaris itu? Sudah saya coba juga, selain bentuknya yangminta ampun jeleknya, stabilnya sama seperti GL.iNet 6416.

Saya memilih UBNT Unifi AP LR karena lebih stabil dibanding dengan Nanostation M2. Unifi AP saya install openwrt, petunjuk bisa dibaca disini. Dan stabil hingga 20+ perangkat. Streaming lancar, download lancar, tidak perlu lagi restart perangkat.

Kok bisa? Perbedaan utama antara mikrotik dan UBNT ada pada chipset yang digunakan. Maksudnya chipset CPU dan chipset wireless. Kebetulan, yang dipasang di Unifi AP LR lebih stabil dibanding dengan RB951, RB751 dan RB940. Mau berargumen CPU dan RAM mikrotik lebih besar, ya silahkan, nyatanya ditempat saya AP yang paling stabil hanya UBNT.

Ingat, setiap area punya kendala masing-masing. Bisa saja di tempat anda lebih cocok menggunakan mikrotik daripada UBNT. Yang penting, semua client senang dan tidak ada lagi komplain internet macet.

Update 11 April 2017

Lalu apa masalahnya?

Kalau anda cek melalui web wikidevi, UBNT Unifi menggunakan CPU Atheros AR7240 dan chipset wireless Atheros 9287. Sedangkan UBNT Nanostation Loco M2 juga menggunakan chipset yang sama (beda RAM) tapi kestabilan perangkat berbeda pada waktu digunakan sebagai Access Point.

Kemungkinan besar perbedaannya adalah desain antena yang dipakai, Loco M2 menggunakan model antena yang terfokus, sedangkan Unifi model antena Omni. Faktor antena ini berpengaruh di kestabilan koneksi di lingkungan yang banyak noise.

Antena internal mikrotik memang beberapa kali dibahas di forum-forum karena desainnya kurang stabil. Apakah mungkin karena ini? Bisa jadi.

By the way, kombinasi chipset CPU dan Wireless chip yang sama ada pada perangkat murah yang beredar di Indonesia macam D-Link DIR 615 rev E3/E4/E5, TP-Link MR3420 Ver 1.x, TP-Link WR841-N ver 7.x, dan TP-Link WR841ND ver 7.1. Kalau anda berminat mencari, pastikan versi hardwarenya sama karena pabrik mengeluarkan seri perangkat yang sama, tapi versi hardware berbeda.

Kalau anda bisa mendapatkan perangkat-perangkat murah itu, semestinya kestabilan perangkat juga mendekati UBNT Unifi. Sebagai referensi, saya sendiri menggunakan TP-Link MR3420 ver 1.x di rumah, dan memang stabil (belum diujicoba untuk banyak user). Kapan-kapan akan saya review kebenaran teori ini.

Advertisements
  1. April 17, 2017 at 11:41 am

    There’s certainly a lot to find out about this topic.
    I really like all the points you have made.

  2. April 18, 2017 at 1:48 pm

    Hello colleagues, its great paragraph on the topic of teachingand fully explained,
    keep it up all the time.

  3. Nurtanio Putrawan
    September 3, 2017 at 2:44 pm

    Coba merek RUCKUS. AP yang mampu menangani ratusan client. Saya pernah coba 500+ perangkat dengan 1 AP.

    • betweenmeandlinux
      September 5, 2017 at 12:42 am

      mahalllll….. tapi harga memang sebanding dengan kemampuan.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: