Home > Linux Experience > Mengapa saya [tetap] menggunakan Linux

Mengapa saya [tetap] menggunakan Linux

Saya cukup lama menggunakan Linux, semenjak Mandrake 8.0, lalu berlanjut ke Suse 9.1 Personal dan hingga sekarang setia menggunakan Ubuntu 14.04. Saya bukannya anti Windows, percayalah bahwa saya adalah pengguna Windows juga, baik Windows XP, Seven, maupun yang terakhir adalah Windows 10. Dan boleh percaya boleh tidak, handphone saya selain Android, saya juga menngunakan Windows Phone. Yang mana yang saya suka? Nanti saja di artikel berikutnya saya bahas.

Ok, kembali ke topik, beberapa waktu lalu saya membaca tentang orang-orang yang kecewa dengan Linux, dan saya rasa saya cukup setuju dengan pendapat mereka. Dari artikel-artikel yang saya baca, setidaknya ada beberapa hal yang mengecewakan dari Linux:

  • Dukungan hardware yang minim
  • Banyaknya distro – membingungkan
  • Banyaknya pilihan Desktop Manager – membingungkan.
  • Ribet dengan perintah terminal, editing konfigurasi, dsb. Semua yang berbau “geek” dan membutuhkan kemampuan komputasi tinggi.
  • Tidak ada aplikasi populer seperti Adobe Photoshop, MS Office.
  • Tidak bisa bermain game di Linux.

Nah, semua ini membuat saya berpikir, kenapa saya [tetap] menggunakan Linux. Mungkin ini beberapa alasannya:

1. Praktis

Ini mungkin alasan paling mendasar kenapa saya [tetap] menggunakan Linux.

Dari install hingga pakai cuma butuh 10 menit. Booting dari laptop nyala hingga ke desktop hanya butuh 30 detik, proses mematikan malahan lebih cepat lagi, 15-20 detik.

Mau surfing, ngetik, nonton film gak perlu waktu lama, gak perlu scan virus, gak ada aplikasi yang mendadak minta update. Tinggal ON dan pakai.

Kalau menggunakan Gnome, bisa instalasi script tambahan buatan saya, anda bisa buka disini dan disini. Script ini akan membantu anda mengerjakan tugas-tugas sederhana, misal mengkonversi JPG ke PNG, resize gambar, rotate, dsb.

2. Hardware apa saja (hampir semua) didukung.

Ya memang ada hardware yang tidak didukung, tapi mungkin itu hanya sekitar 20% saja. Tinggal colok, dan biasanya akan langsung dikenali.

3. Saya bukan gamer maupun desainer grafis

Saya rasa ini memang bersifat personal, dulu di awal-awal saya pakai PC, saya akan merasa “aman bila PC saya terinstall Adobe Photoshop dan Corel Draw. Masalah saya pakai atau tidak, itu urusan kedua, yang penting terinstall.

Saya tidak terlalu suka main game, tapi ada aplikasi-aplikasi yang saya suka dari Windows, karena itu, untuk beberapa hal saya lebih suka pakai Windows didalam Virtualbox karena terasa lebih praktis. Saya hanya menyalakannya jika perlu, kalau Windows virtual-nya rusak, saya cukup meng-copy file VDI master.

Soal Virtualbox, saya membahasnya disini.

4. LibreOffice [masih] OK buat saya

Saya tahu bahwa MS Office memang OK dan banyak diterima, tapi saya tidak ada kebutuhan tukar menukar file, kalaupun ada, biasanya format *.doc dan *.xls masih bisa diterima dan tidak banyak perubahan, asal saya file LibreOffice saya menggunakan font yang dikenali Windows (misal Times New Roman, Arial). Selain itu sekompleks apa sih formula EXCEL yang biasa anda gunakan? Paling banyak seputar SUM, MIN, MAX, AVERAGE, IF, VLOOKUP dan HLOOKUP.

Sekarang ini uneg-uneg saya

Mungkin ada juga yang berkata enak pakai Linux karena gratis, tapi ah, ini juga relatif kalau di Indonesia. Windows dan aplikasi bajakan sudah berakar kuat dan menyebar dimana-mana, sehingga seolah-olah semua aplikasi buat masyarakat Indonesia bernilai “gratis”. Jadi menurut saya, ini bukan lagi nilai jual yang utama dari Linux sehingga saya [tetap] menggunakan Linux.

Sedangkan soal Desktop Manager yang sekarang ada banyak sekali (sebut Gnome, KDE, Mate, LXDE, XFCE, LXDE, Cinnamon, dsb) dan katanya bikin pusing pengguna awam, saya sih tidak ambil pusing. Toh semua sama saja, yang penting kalau sudah terbiasa, pasti enak saja pakainya.

Terus ada juga yang meributkan kenapa tidak ada MS Outlook di Linux. Sejujurnya di era sekarang, ada yang masih pakai MS Outlook? Sekarang tuntutan kita adalah web-based email client yang mobile friendly karena kita suka mengakses email dari ponsel. Editing foto buat instagram pakai Adobe Photoshop? Sekarang udah gak jamannya lagi karena banyak aplikasi di handphone yang bagus-bagus, tinggal pilih filter, sesuaikan, simpan lalu upload dan menunggu di-like orang lain. Benar kan?

Saya sendiri melihat banyak yang menyerang Linux karena tidak adanya Adobe maupun Corel, tapi herannya kebanyakan yang menyerang itu adalah orang-orang yang menggunakan Windows. Padahal kalau anda desainer grafis sejati, seharusnya anda akan menggunakan Mac, bukan Windows. Coba deh, lihat-lihat kantor desainer-desainer grafis di luar negeri, atau kalau gak bisa, tonton aja acara-acara fashion di TV kabel, 80%-90% menggunakan Mac, termasuk ponsel mereka juga iPhone.

Gunakan Windows bila anda gamer sejati, karena memang lebih banyak dukungan game dan kartu grafis terbaru. Main game pakai Mac juga sama repotnya dengan Linux, pertama karena tidak semua game bisa dijalankan di emulator, dan yang kedua karena VGA Card-nya tidak bisa diganti-ganti semudah PC Windows.

Sejujurnya kalau anda mendapatkan sebuah distro yang otomatis berjalan, tinggal pakai, sudah lengkap dengan wine dan virtualbox+windows XP/7 didalamnya, maka semestinya tidak akan menimbulkan pengalaman pahit saat menggunakan Linux. Buktinya, istri saya sekarang malah pusing dan deg-degan dengan virus saat harus pakai Windows.

Nah lho, habis ini akan ada yang menyerang saya dengan alasan saya sudah “Linux minded”, padahal saya ini orang yang lebih oportunis, semua sistem akan saya pakai untuk menunjang kinerja saya. Yang penting saya bisa pakai dengan cepat, praktis.

Mau ngetik, browsing, nonton film, dengerin musik? Pakai Linux lebih praktis.

Mau main game? Pakai Windows lebih joss.

Mau desain grafis? Pakai Mac lebih mantap.

Gak terasa, ternyata saya sudah menulis artikel tentang topik ini sampai berkali-kali. Berarti “Linux Minded” dong.. Hehehehehehe.. ~(‘▽’~) (~’▽’)~

Nggak tau lah, oportunis saja. Ini beberapa tulisan saya dari jaman-jaman dahulu.

Categories: Linux Experience
  1. March 29, 2016 at 12:16 pm

    Dulu laptop pernah coba dual OS, Linux dan Windows, wussh, jelas lebih enak Linux ke mana-mana (tak suka game atau grafis yang aneh-aneh). Sayang teman yang biasa ditanyai soal Linux pindah kota, sekarang balik Windows only lagi.🙂

    • betweenmeandlinux
      April 4, 2016 at 1:57 am

      Nanya2 kesini saja gan.😀

  2. SryouX
    August 25, 2016 at 8:23 am

    Sekitar dua thun lalu Pertama kenal linux gara gara android. hehe.. Sampai cari2 artikel tentang linux, gnu, terminal command, free software, open source dll. Akhirnya laptop saya dualboot pakai ubuntu, widih.. indahnya, jujur saya senang sekali karna lebih ringan dan animasinya yang smooth, berbeda jauh dengan win, saya tidak bermaksud menjelekan win os loh, tapi kenyataannya memang begitu. hehe..

    Saya bukan gamer juga sih tapi hanya sering liat update game2 terbaru linux di gamingonlinux.com juga ada Steam.

    Banyak yang bilang linux susah, mungkin karna susah ngebajak software atau geme2 nya. hohoho.. ( maaf ngaco ^^)
    Di android ada F-Droid market khusus untuk software2 open source lumayan banyak appsnya, aternatif bagi yang ga punya aplikasi google.
    Sorry komennya kepanjangan gan.. hehehe..

    • betweenmeandlinux
      September 1, 2016 at 8:00 am

      Thanks gan udah mampir! Sekarang OS udah gak penting lagi, yang penting aplikasi. User tetap happy, apapun OS nya asal aplikasi mereka bisa jalan.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: