Home > Linux Experience > Linux tidak bersaing?

Linux tidak bersaing?

Saya baru kemarin menerima presentasi marketing dari lembaga pendidikan yang menawarkan kurikulum TIK ke sekolah saya. Karena mereka Microsoft Certified Partner, otomatis yang ditawarkan juga berbasis Windows. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan presentasi mereka. Bahkan saya lihat sebagian menggunakan program OpenSource, saya mengenali gambar Tuxpaint, gCompris, blogging dan pembuatan website dengan CMS (menggunakan wordpress/joomla? Kalau iya, pasti menggunakan apache dan mysql).

Yang menjadi masalah buat saya adalah pada waktu kami berdiskusi yang dimulai dengan pertanyaan:
“Maaf pak, di sekolah Bapak, selama ini pembelajaran TIK menggunakan apa?”
Saya jawab, “Pakai Linux sebagai basisnya”
Langsung saat itu saya mendapat jawaban, “Wah kasihan anak-anaknya kalau mereka pakai Linux. Mereka sudah belajar dan industri pakai Windows.” Yang bikin menohok adalah sikap menyerang mereka (khas-nya orang-orang Microsoft pada waktu awal tahun 200an merespon Linux). Waktu itu tidak saya ladeni, buat apa? Presentasi waktu itu dihadiri oleh pimpinan saya, tidak ada gunanya debat kusir dengan mereka. Kalaupun saya yang menang, apa untungnya buat saya? Tapi terus terang sejak awal, saya meragukan kemampuan kurikulum ini dibandingkan dengan kurikulum yang kami sudah jalankan dan kembangkan.
Lalu saya mengajukan pertanyaan skak-mat (karena jengkel.. ;P), “Software yang digunakan, kami dibantu install kan? Tapi artinya software-nya ngga asli ya? Wah abu-abu dong.”

Mereka sih rada kikuk, dan akhirnya mengakui bahwa software yang digunakan jelas bajakan. Lha ya, mana ada anggaran beli software macam Photoshop, Corel, Illustrator, MS Office, MS Publisher, dan 3DS-Max? Hitung saja berapa besar investasinya?

Mereka mencoba menenangkan diskusi dengan mengatakan, “Tapi kalau untuk pendidikan tidak apa-apa kok. Hitung-hitung ini juga promosi bagi pembuat software sebelum siswa masuk ke dunia kerja.” (Mana ada to mas… Saya lihat ada versi teacher dan students, artinya ya memang tidak gratis. Kok masih berani bilang tidak apa-apa..)

Anda bisa bayangkan betapa beratnya hati saya saat mengajar tentang HAKI dan akhirnya siswa saya harus mengetik dan membuat presentasi di software bajakan. Apa gunanya saya mengajarkan menghargai hasil karya orang lain bila yang saya perkenalkan ke mereka untuk belajar adalah “software curian”?

Sebenarnya bukan software yang saya permasalahkan disini, ataupun OS. Tapi pernyataan bahwa “.. kasihan bila diajarkan menggunakan Linux.”. Buktinya, selama ini lulusan dari sekolah saya tidak pernah mengalami kesulitan adaptasi dengan aplikasi yang mereka gunakan selama kuliah. Bahkan saya malah menduga karena mereka terbiasa menggunakan banyak macam aplikasi (dan OS), hal inilah yang membuat mereka cepat beradaptasi saat kuliah.

Tapi masalahnya adalah apakah para pengajar TIK di tingkat dasar (SD) dan menengah (SMP dan SMA) tahu tujuan pengajaran TIK di tingkat dasar dan menengah? Atau jangan-jangan seperti doktrin yang saya dapatkan dari dosen-dosen saya bahwa lulusan IT adalah programmer? Jadi secara tidak langsung terkonsep bahwa, bila saya gagal menjadi programmer artinya saya adalah lulusan IT yang melenceng dari kodratnya.

Satu hal yang harus diingat oleh saya maupun guru-guru TIK yang lain, teknologi memang sudah maju, tapi masalahnya tingkat perkembangan anak tetap sama, dari dulu hingga sekarang. Anda tidak bisa mengajarkan aplikasi yang rumit ke anak usia dini. Di kasus khusus memang ada anak-anak (baca: anak jenius) yang menguasai komputer sejak muda. Tapi berapa banyak yang kemampuannya adalah rata-rata?

Saya dan tim mencoba merancang kurikulum yang semoga cukup sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Kami sama sekali tidak memasukkan ranah programming ke kurikulum seperti pada umumnya dilakukan di sekolah lain. Yang kami masukkan adalah pengembangan kreativitas, dan basisnya adalah aplikasi editing grafis.

Kenapa begitu? Karena materi programming tidak memungkinkan anak menyimpang dari langkah yang seharusnya/sudah ditetapkan.

Bila tidak percaya, coba anda hitung berapa variasi dari aplikasi yang menampilkan tanggal system? Paling-paling yang berbeda hanya tampilan (sama dengan grafis kan?), tapi logika dan urutan coding tetap sama. Saya setuju bahwa programming melatih logika, tapi tool/software yang selama ini digunakan tidak pas untuk pendidikan. Saya malah lebih setuju untuk mengajarkan algoritma dibanding dengan pemrograman.

Karena itu saya mendorong anda-anda yang membaca blog saya, dan kebetulan berprofesi sebagai guru/pengajar untuk merenungkan ini: Apa tujuan anak-anak itu diajarkan TIK (apalagi dengan software tertentu)? Supaya mampu bersaing di pasar global? atau TIK adalah alat yang membantu perkembangan mereka menjadi manusia kreatif yang cerdas dan mudah beradaptasi.

  1. March 16, 2012 at 11:35 pm

    mantaaaap Pak…

  2. August 27, 2012 at 3:36 am

    saya setuju pak, tapi saya bukan guru TIK, saya sendiri sudah 3 tahun menggunakan opensoure (KUBUNTU). Windows jarang sekali saya tengok walau masih ada di Laptop, saya tengok untuk ngecek hardware atau ngecek virus aja. hidup open souce

  3. December 29, 2012 at 2:41 am

    Saya desain grafik. udah berapa tahun pake linux.. Asyik-asyik aja tuh…oh iya saya juga bikin resensi untuk linux cara lain berkreatifitas.

  4. betweenmeandlinux
    December 29, 2012 at 4:15 pm

    @isul: mantap!

  5. Andika
    August 2, 2013 at 6:25 am

    Indonesia msih trlalu susah memikirkan asli/bajakan…
    Jgnkan OS, kaset Lagu saja rasa”nya mustahil utk tdk dibajak…
    Aplgi OS hrganya berjuta”, mau pke Linux org Indo ga’ mau susah, ya enaknya software bajakan…
    Lgipula Bill Gates toch senank” aja biarpun softwrenya dibajak..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: