Home > Linux Experience > Opensource is Dead, Suck, Bad!

Opensource is Dead, Suck, Bad!

Lhoo, bukannya ini blog tentang Linux? Kenapa judulnya begini??

Yah, beberapa waktu lalu saya iseng-iseng mencari tahu tentang keyword diatas. Terutama setelah menguatnya tuntutan dari pihak Close Source (terutama Microsoft) kepada Google Android yang notabene OpenSource. Saya terus terang agak khawatir dengan masa depan OpenSource, terutama karena saya bukan programmer handal di lingkungan OpenSource. Saya jadi ingin tahu apa pendapat user biasa tentang Linux.

Dari semua artikel yang saya baca, ternyata hampir semuanya berisi keluhan dari pengguna OpenSource yang pertama kali menggunakan Linux, antara lain:

  • Saya tidak bisa menjalankan file *.exe yang saya punyai! (Ya iyalah, itu kan file Windows..)
  • Di Linux penggunaan GUI sangat kurang, kenapa langkah-langkah di terminal lebih mudah. Harusnya Linux menyediakan menu untuk mengatur sistem. (Rasanya di Windows lebih sulit lagi deh, tidak pernah saya jumpai manual book tentang sistem. Contohnya: berapa banyak dari anda yang tahu tentang fungsi drwatson.exe adalah debugging? )
  • Di Linux apa-apa harus menggunakan “sudo”! (Ini kan ditiru oleh Windows Vista dan Windows 7? )
  • Perangkat saya tidak berjalan di Linux (Di Windows juga tidak akan bisa kecuali driver di-install. Ini salahnya pembuat, bukan OS-nya)
  • Linux harus diupgrade setiap 6 bulan. (Ya sebenarnya tidak harus. Selama sistem lancar.)
  • Untuk install program di Linux harus konek internet. Repot! (Konsep repository ini ditiru juga oleh Microsoft and friends. Mereka membuat toko aplikasi untuk Windows lho!)
  • Program OpenSource adalah program yang berangkat dari hobi/tugas sekolah yang mendadak tenar lalu semua orang tiba-tiba ikut menggunakan. (Bukannya Microsoft, Apple berangkat dari hobi? Facebook juga bukan program komersial pada waktu diciptakan.)
  • Program OpenSource tidak sebagus CloseSource. (Yah, karena OpenSource dikembangkan oleh banyak orang, kadang bisa saja proyek itu berhenti atau lama. Tentu saja bila dibandingkan dengan banyak programmer yang digaji oleh pengembang CloseSource, program CloseSource lebih baik karena jam pengembangannya lebih tinggi).
Nah, dari semua itu, saya menyimpulkan bahwa sebenarnya Linux dan OpenSource tidak sulit. Bukan karena saya sudah terbiasa menggunakan Linux, tapi pola pikir user yang harus diubah.
Bila anda ganti handphone, dari Nokia (non symbian) ke Blackberry, toh tidak ada komplain kan? Tidak ada yang komplain tuh kenapa Blackberry ribet, baterai boros, sampai-sampai orang tidak mau lagi pakai Blackberry?
Untuk mengubah pola pikir saya yang Windows-minded butuh waktu beberapa tahun. Tapi sekarang saya menggunakan Ubuntu secara penuh di laptop. Toh tidak ada masalah selama ini. Malah lebih cepat dan praktis daripada Windows.
Teman saya yang “terpaksa” menggunakan Linux, juga tidak mengalami masalah. Malah sekarang lebih tenang karena tidak ada virus.
Categories: Linux Experience Tags: ,
  1. November 16, 2011 at 2:06 pm

    maaf gan ane newbie di linux ubuntu 11.10 yg ane cobain.klo di JENDELA kan ada software cct yg pake webcam nah di ubuntu 11.10/linux ada ga ya?klo ada apa namnya? bs kasi referensi.udah googling blm ketemu2😀, thx

  2. betweenmeandlinux
    November 19, 2011 at 4:40 am

    udah nyoba zoneminder? http://www.zoneminder.com/

  3. November 30, 2011 at 7:06 am

    Saya ingin mengajukan pendapat. Yap, secara umum saya memang sejalan dengan mas, tapi kini saya tidak seperti dulu yang ngototan ini benar itu salah.

    Kutip:

    * Saya tidak bisa menjalankan file *.exe yang saya punyai! (Ya iyalah, itu kan file Windows..)
    * Di Linux penggunaan GUI sangat kurang, kenapa langkah-langkah di terminal lebih mudah. Harusnya Linux menyediakan menu untuk mengatur sistem. (Rasanya di Windows lebih sulit lagi deh, tidak pernah saya jumpai manual book tentang sistem. Contohnya: berapa banyak dari anda yang tahu tentang fungsi drwatson.exe adalah debugging? )
    * Di Linux apa-apa harus menggunakan “sudo”! (Ini kan ditiru oleh Windows Vista dan Windows 7? )
    * Perangkat saya tidak berjalan di Linux (Di Windows juga tidak akan bisa kecuali driver di-install. Ini salahnya pembuat, bukan OS-nya)
    * Linux harus diupgrade setiap 6 bulan. (Ya sebenarnya tidak harus. Selama sistem lancar.)
    * Untuk install program di Linux harus konek internet. Repot! (Konsep repository ini ditiru juga oleh Microsoft and friends. Mereka membuat toko aplikasi untuk Windows lho!)
    * Program OpenSource adalah program yang berangkat dari hobi/tugas sekolah yang mendadak tenar lalu semua orang tiba-tiba ikut menggunakan. (Bukannya Microsoft, Apple berangkat dari hobi? Facebook juga bukan program komersial pada waktu diciptakan.)
    * Program OpenSource tidak sebagus CloseSource. (Yah, karena OpenSource dikembangkan oleh banyak orang, kadang bisa saja proyek itu berhenti atau lama. Tentu saja bila dibandingkan dengan banyak programmer yang digaji oleh pengembang CloseSource, program CloseSource lebih baik karena jam pengembangannya lebih tinggi).

    Seluruh sanggahan Anda malah saya rasa akan membuat pengguna Windows yang belum pernah coba linux merasa seram dengan Linux dan Open Source. Ini pendapat saya, lhoooo🙂 Kenapa? Sudah, kita harus akui kalau Linux memang masih banyak kekurangan dan kita sendirilah yang bakal menambalnya🙂

    Masalah repo, mestinya Anda jawab dengan keuntungan dan kelebihan daripada begitu. Kalau Anda sanggah begitu, kesannya Windows sama saja dengan Linux dan gak ada masalah. Kenyataannya, awam sampai tanya. Berarti itu ada masalah dan masalah tidak akan selesai dengan sanggahan. Secara umum, memang kenyataannya Microsoft demikian🙂 tapi bagaimanapun, pengguna memerlukan lebih dari sanggahan.

    Gak masalah, mempromosikan Linux memang butuh banyak improvisasi. Banyak pembenahan. Tenang, saya yakin akan kapasitas Anda. Itu, distro bikinan Anda adalah portofolio Anda, bukan?

    Pokoknya, sanggahan Anda seluruhnya berkesan menyinggung awam (padalah awam sangat butuh bimbingan, Anda sendiri tahu itu). Dalam melakukan pemasaran Linux, semestinya kita tidak demikian. Kita mesti lebih halus dan ramah terhadap mereka. Oke, kalau Anda tujukan posting ini sebagai evaluasi. Namun saya ingin mengevaluasi posting ini (yang tak lain pemikiran Anda🙂 )

    Saya nggak menjelekkan Anda, lho. Saya cuma mengkritik. Saya senang Linux dan saat ini menggunakan Linux. Portofolio saya bisa dilihat di posting saya http://en.malsasa.tk/no-windows-no-cry/ sebagai bukti saya ini tidaklah mendukung kapitalisme dan monopoli (singkat: bukan pengguna Windows). Dan saya ingin berbenah secara internal masalah promosi Linux.

    Senang kiranya jika Anda mau menampilkan komentar ini dan membalasnya. Senang lagi jika Anda bersedia mengoreksi kesalahan-kesalahan saya (jika salah) dan mengakui kebenaran (jika benar). Yap, saya yakin akan kapasitas Anda. Salam kenal, Mas. Salam hangat dan jabat erat.

    Warga FUI,

    Ade Malsasa Akbar

  4. betweenmeandlinux
    November 30, 2011 at 7:52 am

    @mas ade:
    Sebenarnya saya tulis itu lebih kearah sanggahan lho. Karena kata-kata diatas, saya kutip dari blog lain yang tag nya “opensource is suck”.
    Sebenarnya sih Linux lebih praktis daripada windows. Ini pengakuan user saya lho, bukan karena saya doktrinasi. Mereka sendiri yang merasakan kalau menggunakan Linux, sistem lebih simpel dan berjalan seperti yang mereka mau, tidak ada program-program aneh yang berjalan di balik layar (baca: virus dan malware). Kata mereka, “Linux itu praktis”.

    Yang selama ini teman2 di Linux selalu coba angkat adalah kita sesuaikan Linux untuk Windows. Padahal Linux dan Windows itu berbeda. titik.
    Sama seperti Mac dan Linux dan Windows berbeda. Saya ingin mengangkat sisi bahwa ada alternatif, yaitu Linux, dan alternatif bukan berarti harus sama atau mendekati. Saya ingin setiap orang yang saya presentasikan Linux, berpikir dengan pola yang sama: “Ini sesuatu yang berbeda dengan Windows.”
    Itu sebabnya saya pakai analogi antara symbian dan blackberry. Menurut saya, semakin kita mencoba “menyamakan” Linux dan Windows (bahkan dalam proses migrasi), malah akan semakin ruwet. Tapi dengan memahami perbedaan, ini akan membuat user lebih tenang.
    Kalau Linux memang kurang, ya memang diakui software pendukungnya tidak sebanyak Windows. Tapi kalau kita pakai analogi symbian dan blackberry, saya kira itu bisa diterima kan?🙂

    Hanya, dalam proses migrasi tentu saja kita akan mencari persamaan supaya user bisa dengan mudah menerima. Istilahnya ini adalah “bridging / penjembatan” tapi bukan “equally / penyamaan”

    Terima kasih lho untuk commentnya.
    Shake hands.😀

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: