Home > Linux Experience > Dari Ubuntu ke Kubuntu, Dari Gnome ke KDE – Hari 2,3,4 (habis)

Dari Ubuntu ke Kubuntu, Dari Gnome ke KDE – Hari 2,3,4 (habis)

Ini merupakan ringkasan dari hari ke 2, 3 dan 4 bersama dengan KDE. Mungkin lebih tepat bila saya mengatakan bersama Kubuntu 10.04.

Oh.. Saya menemui banyak perbedaan, dan sebagian besar merupakan ketidak-beruntungan, kalau boleh dibilang hambatan. Hari ke dua dengan Kubuntu 10.04, saya perlu menginstalasi Thunderbird termasuk menggunakan profile Thunderbird yang saya simpan di partisi FAT32. Cara paling praktis adalah menggunakan perintah “ln -s” untuk membuat symbolic link ke folder thunderbird. Tapi konsole, KDE terminal, gagal mengeksekusi perintah itu. Saya bukan orang baru dalam dunia perintah Linux, saya cek 3 kali untuk memastikan apakah betul-betul tidak ada kesalahan pengetikan perintah. Dan bila saya mencoba perintah ls ke link itu, hanya akan ditampilkan tanda “?????”. Untungnya Dolphin File Manager memberikan fasilitas untuk membuat link ke folder. Arghhh….

Selanjutnya adalah instalasi wine yang tidak lancar. Program yang biasa saya pakai melaporkan bahwa ada file midas.dll yang hilang, padahal file itu ada dalam satu folder! Di Ubuntu(Gnome?) saya tidak pernah menemui masalah ini.

Kate, editor teks di KDE tidak mempunyai fasilitas tampilan wordwarp! Yang ada malahan wordwarp yang secara otomatis memberikan baris baru setelah saya sampai ke titik tertentu. Benar-benar merepotkan terutama bila saya perlu melakukan copy-paste ke Blog ini, saya harus menghapus kembali baris-baris baru yang kate tambahkan. Ok, ini mungkin bukan kesalahan kate sepenuhnya, saya juga sadar bahwa mungkin saya yang belum tahu bagaimana mengatur kate, tapi tetap saja menggunakan kate membuat saya menjadi bertanya-tanya kenapa KDE menjadi terlihat rumit.

Lalu hal yang begitu mengganggu saya adalah kemampuan untuk mount partisi didalam harddisk. Semua dikenali sebagai /media/disk atau /media/disk-1, tergantung partisi mana yang anda mount pertama kali. Ini menyulitkan karena beberapa program yang saya jalankan dengan wine menjadi tidak dapat dijalankan.

Yang lain? Notifikasi ala Kubuntu benar-benar sangat menganggu, notifikasi yang ada bertumpuk dalam 1 baris, menggunakan terlalu banyak animasi yang di kompuetr rendah memori malah membuatnya menjadi macet!

Duh, ini bukan pengalaman berkomputer yang saya harapkan dari Kubuntu 10.04. Entahkah karena KDE, atau mungkin Kubuntu 10.04? Belum lagi dengan pemakaian RAM, laptop saya memang mempunyai RAM 1 GB, dan terasa ringan untuk menjalankan Linux apa saja, tapi dengan Kubuntu 10.04, perintah top menyatakan bahwa saya menggunakan lebih dari 90% dari memori, lebih dari 900 MB RAM dipakai sebagai cache memori oleh Kubuntu 10.04. Wow, kontras sekali dengan pemakaian RAM oleh Ubuntu 10.04, saat saya menulis ini pemakaian RAM hanya 330 MB, dan menjalankan 2 GUI yaitu GEdit dan Gnome-Terminal. Plasma Desktop memang keren sekali, luarbiasa! Sayangnya rakus memori.

Hanya dua hal yang betul-betul saya puji dari Kubuntu 10.04, Plasma Desktop dan Dolphin File Manager. Selebihnya? Kubuntu 10.04 lebih menjadi sekumpulan aplikasi kompleks yang merepotkan. Dan yang paling tidak saya sukai adalah semua aplikasi KDE mempunyai 3 menu pengaturan, (Settings): Configure Toolbar, Configure Shortcuts, dan Configure aplikasi-nya sendiri.  Saya tidak menginginkan tampilan yang rumit, saya hanya ingin sebuah sistem yang langsung bekerja tanpa memberikan kerepotan lebih banyak. KDE memang menawarkan kemampuan kustomasi yang luar biasa, tapi seringkali saya malah tidak membutuhkan itu.

Jadi, hari kelima, saya putuskan “Selamat tinggal Kubuntu 10.04”, dan “Selamat datang kembali, Ubuntu 10.04”. Yeah!

Note:

Hal mendasar yang membedakan antara Ubuntu dan Kubuntu bukan hanya masalah Gnome atau KDE, tapi lebih karena Ubuntu dikembangkan oleh Canonical. Ada banyak penyesuaian yang dilakukan Canonical untuk membuat Ubuntu menjadi lebih mudah. Satu hal yang membuat saya tidak senang adalah, Ubuntu seakan-akan sudah mulai keluar dari jalur OpenSource, ada banyak perubahan yang dilakukan Canonical terutama karena pendekatan bisnis.

Satu hal yang saya takutkan adalah, Canonical menjadi seperti Google, mengambil kernel Linux, mengubahnya menjadi Android dan membuatnya dipakai oleh semua orang, dan pada akhirnya kita semua terikat seperti kita dulu terikat oleh Microsoft.

Saya memutuskan untuk mencoba Debian dengan tampilan Gnome. Saya ingin tahu apakah Gnome yang mempermudah, atau Ubuntu yang sebenarnya mempermudah pemakaian Linux.

Categories: Linux Experience Tags: ,
  1. June 5, 2011 at 12:48 pm

    – saya baru nyobain kubuntu ternyata memang merepotkan tampilan oke tapi saya lebih suka dengan ubuntu, jadi gimana nih paket kubuntunya di remove atau tetap sebagai koleksi…. sekalian berkunjung…

  2. betweenmeandlinux
    June 6, 2011 at 1:37 am

    Kubuntu saya remove, tapi masih penasaran dengan KDE. Rencananya saya mau install Ubuntu Server tapi ditambahkan paket KDE. Kepengen nyoba kaya apa.
    Saya mau kemudahan Ubuntu, tapi tampilan KDE.

    thx sudah berkunjung!😀

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: