Home > Linux Experience > Dari Ubuntu ke Kubuntu, Dari Gnome ke KDE – Hari 1

Dari Ubuntu ke Kubuntu, Dari Gnome ke KDE – Hari 1

Setelah menggunakan Gnome selama lebih dari 9 tahun, dari jaman RedHat 6, hingga sekarang Ubuntu 10.04 saya memutuskan untuk mencoba pengalaman baru dengan KDE. Kata orang Linux itu fleksibel karena memberi kemudahan bagi pengguna untuk memilih Desktop Manager-nya sendiri, OK-lah kalau begitu. Saya jadi ingin mencoba pengalaman baru dengan KDE. Saya memilih Kubuntu 10.04 sebagai start awal dengan pertimbangan penguasaan lokasi file, direktori dan perintah sama dengan Ubuntu.

Awal instalasi, biasa saja. Saya pernah mencoba Kubuntu sebelumnya, tapi hanya sebatas mencoba. Tapi bagaimana dengan mencoba paling tidak selama 1 minggu? Wah, ini baru bagi saya.

Jadi tulisan ini saya anggap sebagai: “Day 1 to walk along with KDE

Selesai instalasi, Desktop di-loading agak lama, karena mungkin belum ada pengaturan standar untuk username saya. Saya perlu waktu sekitar 20-25 detik, kelihatannya sedikit lebih lama dibandingkan dengan waktu Gnome (Ah, masa iya. Paling juga efek plasebo)

Nah. sekarang masalah wireless card. Karena menggunakan Broadcomm, untungnya Ubuntu menyediakan driver di CD instalasi-nya. Lho, tapi kok tidak bisa? Oh, ternyata saya salah memasukkan CD, harusnya menggunakan CD Kubuntu dan bukan CD Ubuntu (ini juga tidak tertulis di manual). Karena perintah dilakukan di terminal jadi tidak ada masalah.

Setelah restart, wireless dikenali dengan lancar. Bingung juga sih bagaimana cara setting-nya. Oh, ternyata ada KDE Network Management, sedikit berbeda dengan applet yang ada di Ubuntu. Saya mulai memasukkan daftar repository yang biasa saya pakai. Biasanya saya copy-paste dengan gedit, sekarang pakai apa ya? Setelah mencari-cari, ternyata KDE ada kate.

Gnome ada empathy dan pidgin, KDE ada kopete, wah malahan ada video chat juga. Mantap nih..

Tapi kok malah muncul banyak notifikasi?? Wah, nggak tahu deh. Ignore dulu aja ah. Belum tahu bagaimana cara pengaturan-nya.

Mau internetan, kok adanya Konqueror?? Coba dulu ah, jadi pengen tahu seperti apa browser-nya KDE. Mirip-mirip dengan Firefox, mungkin karena engine-nya sama. Tapi kok synaptic tidak ada? Adanya malah KPackageKit. KPackageKit tidak nyaman sekali, saya putuskan install adept saja. Adept pun masih membingungkan karena tidak ada tombol Apply, Mark All Upgrades seperti yang ada di synaptic. Adept menyediakan perintah apply dengan cara mengakses menu, ini cukup merepotkan karena saya kadang salah pencet menu “Fetch package list”, lalu saya juga tidak bisa klik checkbox di sebelah nama package, karena ternyata checkbox baru muncul di bagian bawah keterangan dari package (Duh.. merepotkan), tidak ada konfirmasi dari adept tentang package apa saja yang perlu diinstall sebagai tambahan.

Kembali ke Desktop, banyaknya widget dari KDE betul-betul membuat pengalaman berkomputer menjadi kaya, ada widget Facebook dan Twitter, lumayan nih bisa eksis sambil menulis blog. Khusus untuk widget Facebook, anda harus login dari konqueror baru bisa muncul di Desktop.

Saya rasa hari pertama cukup sekian dulu.🙂

Categories: Linux Experience Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: