Home > Open Source > Kelemahan OpenSource (untungnya sekarang sudah banyak diperbaiki)

Kelemahan OpenSource (untungnya sekarang sudah banyak diperbaiki)

Saya mengajar di sebuah sekolah swasta yang notabene anak-anaknya cukup mampu, dan sebagian mereka menggunakan Mac. Suatu kali saya bertanya ke salah seorang anak, “Kenapa tidak menggunakan Windows untuk laptopnya? Kenapa memilih Mac, tidak takut tidak bisa main game?”.

Dia dengan mantap menjawab, “Tidak. Saya tetap memilih Mac. Saya bisa mencari alternatifnya di Mac.”. Tapi bila saya menghadapkan mereka ke Linux, selalu jawabannya adalah Linux susah dan tidak keren. Mungkin ini beberapa kesalahan yang Linux lakukan.

Kebebasan yang berlebihan

Mungkin salah satu kesalahan terbesar dari pengembangan Linux adalah kebebasannya yang terlalu besar. Linux sangat menghargai kebebasan sehingga banyak developer memilih untuk mengambil jalannya masing-masing. Apakah ini salah? Tergantung darimana anda memandangnya, bila anda memandang dari sisi hak asasi tiap orang ini jelas tidak salah, tapi bila anda memandangnya dari sisi pengembangan program, ini jelas suatu kesalahan besar.

Ok, tahan dulu sanggahan anda para master di Linux, saya bukan Linux Haters, saya Linux Lovers tulen.🙂

Saya mengajarkan ke siswa saya tentang OpenSource vs Close Source. Dan saya rancang pembelajaran saya dalam bentuk diskusi dan debat. Dari kesimpulan debat yang mereka lakukan, mereka menemukan bahwa kelemahan terbesar dari OpenSource adalah support/dukungan.

Linux tidak berjalan out-of-the-box secara sempurna. Malahan yang benar adalah fakta bahwa “Tidak ada OS di dunia ini yang mampu berjalan out-of-the-box”. Justru Linux-lah yang paling sempurna dukungan driver-nya. Windows mampu berjalan sempurna karena pembuat hardware membuatkan driver untuk mereka. Mac berjalan sempurna hanya pada hardware tertentu yang sudah mereka pilih. Tapi sialnya adalah pembuat hardware tidak melirik Linux dan memberikan drivernya kepada mereka, jadi developer kernel harus bersusah payah membuat driver.

Kebebasan yang terlalu besar pada Linux/OpenSource membuat developer mengambil jalannya sendiri-sendiri, bila tidak cocok mereka membuat software sendiri, bila tidak cocok, mereka membuat distro sendiri. Bayangkan bila mereka benar-benar bisa bergabung, pasti pengembangan akan jauh lebih cepat. Pilihan software mungkin akan menjadi tidak sebanyak sekarang, tapi akan lebih user-friendly dan powerfull.

Berpikirlah GUI

Kesalahan kedua (yang sekarang sudah banyak berubah) adalah Linux terlalu terfokus ke CLI/text based dan kurang kuat di pengembangan GUI. Bila anda berbicara dengan user biasa, berbicaralah dengan GUI, itu bahasa yang mereka pahami, CLI hanya untuk advanced user. Server Linux memang sangat tidak tertandingi, dan seisi dunia IT sangat mengakui itu, tapi bagaimana dengan user-interface?

Lebih lagi developer yang membuat user-interface lebih banyak geek daripada artist, dan akhirnya inilah yang membuat tampilan Linux pada awal-awal sangat jelek sekali. Saya menguasai pemrograman, tapi saya lemah di sisi desain, akibatnya web yang saya buat tidak sebagus dan sekreatif orang-orang desain grafis. Saya mengakui inilah kelemahan saya sebagai developer. Mac disokong oleh orang-orang grafis, begitu juga Windows, dan untungnya sekarang Linux juga disokong oleh orang-orang design, dan akhirnya kita mempunyai desktop yang indah seperti teman-teman di Mac dan Windows.

Linux dan Perangkat

Pada dasarnya orang tidak mempermasalahkan OS apa yang digunakan, tengok saja berapa persen orang yang mengeluh karena menggunakan Android? Nyaris tidak ada kan? Apakah ada yang mengeluh berpindah dari hape merk Nokia ke Blackberry? Tidak ada kan? Jadi masalahnya bukan di OS, tapi karena perangkat itu langsung berjalan sesuai dengan fungsi. Mac dijual dengan hardware-nya, tapi tidak untuk Linux. Installer Linux di awal-awal tahun 2000 sangatlah jelek dan susah, belum lagi kesulitan mendapatkan driver. Bila Linux bisa dikemas seperti Mac mengemas produknya, saya rasa tidak akan ada orang yang protes. Ini bukan masalah tampilan/tema, tapi adanya sistem yang user-friendly. Saya sangat merekomendasikan penggunaan Ubuntu 10.04 daripada distro lain karena saya merasa bahwa distro ini jauh lebih user-friendly dengan dialog-dialognya dan dukungan komunitas yang informatif.(maaf bagi distro lain)

Seandainya saja Indonesia memiliki hanya 3 distro saja, mungkin hanya berbasis 3 distro besar, Fedora, Ubuntu, dan OpenSUSE. Lalu kita betul-betul mengembangkan tapi tidak secara sendiri-sendiri, tapi berjalan bersama. Tampilan yang digunakan dan aplikasi ter-install secara default bisa saja sama di 3 distro itu sehingga orang mudah untuk belajar.

Seandainya saja para mahasiswa TI dan elektro diajarkan bukan hanya membuat software, tapi juga membuat driver, pasti kita akan mempunyai banyak developer driver yang hebat.

Categories: Open Source Tags: , , , ,
  1. Herry
    February 17, 2012 at 4:25 pm

    Hahahaha… Iya benar benar…
    Sy sdh mulai utak atik linux sejak jaman redhat 5.0. Berlanjut sampai tahun lalu, akhiirnya bosan. Konsumen (saya) memang perlunya yang ‘it works!’, daripada yang harus oprek2 dulu. Akhirnya beli windows legal, sekarang kesengsem apple.
    Btw gmana kalo kt bikin perusahaan seperti yang anda usulkan? Kita jual linux satu paket dengan hardwarenya.

  2. betweenmeandlinux
    February 20, 2012 at 6:42 am

    @mas herry: Setuju. Saya sendiri juga tertarik dengan Mac, tapi setelah menggunakan Mac Mini malah saya jadi kecewa. Kok malah mirip Ubuntu (ralat: Ubuntu yang mirip Mac).. Sudah gitu, ternyata Mac juga punya CUPS dan terminal (ya iya, lha turunan Unix). Walah… kok malah sama gini…
    Akhirnya saya tetap pakai Ubuntu, tapi bukan yang standar, tapi hasil modif.

    Bikin perusahaan? boleh juga idenya, hanya saja distro besar macam Ubuntu juga sudah bikin, dan kurang laku (Duh..!). Linux secara umum kekurangan support teknis. Pada waktu buat perusahaan IT, support teknis harus tersedia dengan baik.🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: