Home > Migrasi > 5 Strategi Implementasi linux ke kantor/instansi, sekolah, dsb

5 Strategi Implementasi linux ke kantor/instansi, sekolah, dsb

Saya tidak akan membahas bagaimana cara implementasi Linux secara “moral” di kantor/instansi, sekolah, yayasan, dsb.. Anda tahu bahwa itu bisa diberikan melalui training/seminar. Tapi saya haya akan membahas masalah teknis yang sering ditemui user. Yaitu bagaimana program mereka yang biasanya digunakan (notabene dibuat untuk Windows) bisa berjalan di Linux.

Sebagian besar user yang saya temui dan mereka saya migrasikan di Linux merasa berpindahnya sistem operasi bukanlah hal yang rumit. Yang menjadi masalah bagi mereka adalah bagaimana supaya mereka tetap bisa bekerja, bagaimana dokumen yang ada tetap bisa di-edit. Jadimereka tidak meributkan struktur folder, umount flashdisk, dan hal2 yang umum dari sebuah sistem Operasi. Masalah terbesar adalah program mereka bisa berjalan tidak di Linux.

Ingat sysadmin, komputer ada untuk mempermudah pekerjaan. Tinggalkan dulu kebanggaan anda dalam menguasai CLI, sekarang berpikirlah GUI bila berhadapan dengan user biasa.

Banyak pengguna Linux yang mungkin bertanya-tanya bisa tidak mereka lepas dari Windows? Padahal ada banyak program yang dikembangkan untuk lingkungan Windows. Ok, para fans Linux, tahan dulu sanggahan anda. Kita semua tahu bahwa beberapa program Windows jauh lebih powerfull daripada saingannya di Linux, ambil contoh: Adobe Photoshop,Corel, AutoCad, dsb.. Kita sebagai sysadmin tidak boleh menutup mata bahwa program-program itu memang jauh lebih powerfull. Para fans Linux mungkin akan berkata, “Hei.. Bung, tunggu dulu, kita punya GIMP dan Inkscape, dan itu gratis dan bisa dimodifikasi!”

Tapi sejujurnya, berapa banyak sysadmin yang bersedia memodifikasi source code dari GIMP untuk disesuaikan dengan lingkungan kerja?? Dari beberapa ratus juta sysadmin linux di dunia ini saya rasa hanya 1%-2% saja. GIMP dan Inkscape sudah powerfull, Bung! Tapi dalam konteks mereka masing2. Saya pengguna GIMP dan Inkscape selain itu euforia menggunakan Linux sudah begitu menancap di hati saya.

Lalu bagaimana seharusnya? Apakah user dengan dual boot dengan Linux-Windows? Saya termasuk didalamnya, tapi itu bukan usulan yang tepat untuk user awam. Mereka akan segera lari ke Windows daripada Linux.

Ada 5 opsi yang bisa kita terapkan untuk user supaya Linux dan Windows bisa berjalan berdampingan.(dengan catatan atasan sangat mendukung penuh). Sesuaikan 5 opsi implementasi linux di kantor/instansi/sekolah/yayasan ini dengan tempat anda. Ingat, setiap kasus bisa berbeda2.

  1. Dual boot Linux – Windows
  2. Linux dengan tambahan wine
  3. Linux dengan tambahan rdesktop dan sebuah server Windows
  4. Linux dengan tambahan virtualbox/xen
  5. Linux dengan rdesktop/vnc dan sebuah server xen

Untuk dual boot, saya rasa kita semua sudah tahu. Lalu menggunakan wine, itu juga pilihan bijak. Anda bisa menjalankan Adobe Photoshop disana, tapi sayangnya tidak semua program Windows didukung. Crossover bisa dijadikan pilihan tapi tidak terlalu signifikan apalagi berbayar. Bila sama2 bayar, beli saja Windows.😀

Nah, bila keamanan data tiap user bukanlah target utama (user A bebas melihat isi dokumen user B) dan jumlah user hanya sedikit, maka rdesktop akan menjadi pilihan yang baik. Sebagai catatan, 1 buah server Windows XP dengan memori 2 GB cukup meladeni 10 user. Asumsinya setiap user akan mendapat jatah memori 200MB. Bahkan anda bisa men-setting rdesktop agar menjalankan program tertentu dan tidak perlu me-loading desktop. Membuat sebuah program kecil dengan VB/Delphi sebagai launcher akan jauh lebih baik karena efisien memori. Menjalankan full desktop melalui rdesktop hanya akan memboroskan memori karena semua servis dan aplikasi startup akan dijalankan.

Bila anda menjual jasa sewa server, maka menjalankan xen di server besar dan client mempunyai cloud operating system nya sendiri mungkin akan baik. Tapi ini pilihan terakhir saya. Koneksi LAN akan sangat berpengaruh disini. Pastikan kabel dan perangkat jaringan memang dirancang untuk aktivitas tinggi.

Lalu bagaimana dengan Linux+virtualbox? Saya rasa ini paling baik. Memori 1 GB saat ini sudah banyak dan murah. Jadi virtualisasi adalah solusi murah meriah. Dengan virtualisasi, user bisa menjalankan full desktop experience. Virtual machine nya sendiri bisa dibatasi menggunakan berapa processor dan RAM. Dan dengan menginstallkan CD tambahan virtualbox, anda bisa menjalankan mode seamless, copy paste, mouse terintegrasi, accelerasi 3D, dsb..

Tapi sayangnya, walau menggunakan virtualbox/xen Windows tetap butuh antivirus😦 ini yang bikin lambat….

Dari 5 solusi diatas, saya memilih menggunakan rdesktop atau opsi yang lebih baik menggunakan virtualbox/xen untuk menjalankan program tertentu dalam implementasi Linux di kantor/instansi, sekolah, yayasan, dsb..

Saya memberikan screenshoot desktop saya dengan virtual Windows XP (memori virtual 128 MB saja). Terakhir, sebagai catatan, virtualbox/xen bukanlah platform gaming. Jadi jangan berharap banyak menggunakan virtualbox untuk game.🙂

  1. Aan S
    May 17, 2011 at 4:32 pm

    “Bahkan anda bisa men-setting rdesktop agar menjalankan program tertentu dan tidak perlu me-loading desktop. Membuat sebuah program kecil dengan VB/Delphi sebagai launcher akan jauh lebih baik karena efisien memori. Menjalankan full desktop melalui rdesktop hanya akan memboroskan memori karena semua servis dan aplikasi startup akan dijalankan.”
    Bisa dijelaskan maksud dan contoh/caranya? trims

    • betweenmeandlinux
      May 18, 2011 at 1:24 am

      Begini, kalau anda menjalankan perintah “rdesktop 192.168.0.1”, maka rdesktop akan meloading seluruh tampilan desktop di 192.168.0.1, termasuk antivirus dan program-program yang akan otomatis start saat user login. Nah, rdesktop sendiri punya fasilitas shell yang hanya akan menjalankan aplikasi secara remote. Jadi program2 seperti antivirus, icon di desktop, explorer tidak akan dijalankan.
      Penggunaannya: rdesktop 192.168.0.1 -s “D:\aplikasiku\aplikasi.exe”
      Akan praktis bila anda membuat program kecil yang berfungsi sebagai “launcher” yang akan menjalankan kumpulan program yang biasanya diperlukan user, misalnya program buatan anda dilengkapi menu untuk menjalankan MS Office, program accounting, Photoshop, dsb.
      Saya sudah menggunakannya juga, kalau saya loading desktop, saya perlu RAM untuk Desktop kira2 30-40 MB. Kalau ada 10 user yang konek, berarti kan pemborosan RAM 300-400 MB, dan belum tentu aplikasi macam antivirus bisa bekerja sama dengan baik, karena mereka dijalankan dengan hak akses system. Kalau ada 10 user konek, berarti ada 10 antivirus yang dijalankan. Nah, begitu maksud saya.🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: